Showing posts with label REVOLUSI KAUM BURUH. Show all posts
Showing posts with label REVOLUSI KAUM BURUH. Show all posts

Sunday, 25 August 2013

Serikat Buruh, Partai Kelas Buruh dan Perjuangan Politik



Kapitalisme: Kelas-kelas dan Pertentangan Kelas 

Upah murah, ketidakpastian kerja (lewat sistem kontrak dan outsourcing serta PHK), dan ketiadaan jaminan sosial kerja merupakan masalah yang tiap harinya bersentuhan dengan buruh Indonesia.Masalah ini berhubungan erat dengan masalah-masalah lain yang ada pada rakyat mayoritas. Seluruh rakyat berhadapan dengan kebutuhan hidup yang tinggi,ketiadaan lapangan pekerjaan, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, dll,semakin menyebabkan buruh maupun rakyat mayoritas sulit untuk hidup sejahtera,apalagi untuk mengembangkan aspek-aspek kemanusiaannya (belajar, berkesenian,bersosial) sebagai manusia.

Pada saat yang sama, ada sebagian kecil masyarakat yang hidup mewah, berkecukupan bahkan tidak perlu mengeluarkankeringat setetes pun, uang terus mengalir ke brankas mereka. Mereka adalah parapemilik perusahaan/pemilik modal, dimana perusahaannya sendiri seringkali bahkan bukan dijalankan oleh dirinya, melainkan oleh para direktur dan manajer yang diupah tinggi. Mereka juga menguasai bank-bank, pertambangan, industri (pabrikdan jasa), menguasai industri media (tv dan Koran), dan menguasai seluruhbarang-barang konsumsi dan kebutuhan hidup sosial manusia lainnya.

Penggolongan masyarakat tersebut (golongan mayoritas: rakyat bekerja keras-hidup sulit & golongan minoritas:para pemilik modal, tidak bekerja-hidup mewah, dan menguasai dan mengatur kehidupan masyarakat) merupakan hasil dari pembagian masyarakat dalam sistem ekonomi kapitalisme. Kapitalisme, sebuah sistem ekonomi dimana kapital (modal,kekayaan) dan pemiliknya menjadi “Tuhan-Tuhan” baru yang diciptakan dan menjadi penguasa dunia saat ini. Seluruh kebutuhan sosial manusia/masyarakat (makan,pakaian, rumah, sekolah, kesehatan, transportasi, kesenian, bahkan agama, dsb.) diubah menjadi barang dagangan dan dikuasai oleh para pemilik modal. Yang tidak mampu membeli tidak bisa mendapatkannya. Bahkan seluruh nilai-nilai luhurbudaya (solidaritas, saling berbagi, tolong menolong dan sebagainya) dihancurkan dan digantikan dengan nilai-nilai baru yang semuanya diukur dengan uang, harta dan kekayaan (menjadi barang dagangan yang harus dibeli). Jadi pembagian kelas yang terjadi di masyarakat bukanlah karena nasib yang ‘memang begitu adanya’, bukan juga karena dunia sudah dibagi menjadi dua kelas sebagaimana adanya siang-malam, baik-buruk, kaya-miskin, dst, melainkan terbentuk dari sistem ekonomi yang dijalankan.

Sistem ekonomi-politik kapitalis medilahirkan, dibentuk, dan lalu dipertahankan oleh pihak-pihak yang diuntungkan oleh sistem itu, yaitu para pemilik kapital/modal. Sebagai contoh para pengusaha/pemilik modal yang bersikeras mempertahankan sistem kerja kontrak dan outsourcing atau menolak upah layak, ini bukan karena mereka tidak tahu kalau buruh tidak sejahtera, tapi karena hanya dengan cara seperti inilah mereka dapat menumpuk keuntungannya dan pada akhirnya dapat mempertahankan sistem kekuasaan modal ini berjalan.

Di sisi lain kelas buruh berkepentingan untuk mendapatkan kesejahteraan. Kepentingan ini jelas bertentangan dengan kepentingan para pemilik modal. Perbedaan kepentingan (antara buruh dan pengusaha) ini merupakan gambaran paling sederhana dan paling jelas bagaimana dalam suatu masyarakat terdapat golongan-golongan yang saling bertentangan kepentingannya, baik secara ekonomi, maupun secara politik. Penggolongan masyarakat dalam ekonomi-politik inilah yang disebut sebagai“kelas-kelas” . Dimana dalam sistem ekonomi kapitalisme, alat-alat produksi(pabrik, tanah, teknologi dll), yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang-barang kebutuhan sosial masyarakat justrudikuasai oleh pribadi-pribadi, atau segelintir orang dan bukan menjadi miliksosial (Negara rakyat).

Lebih hebatnya lagi, para pemilik modal ini kemudian juga aktif dalam politik, mendirikan partai politiknya ataupun menjadi penyokong utama partai-partai politik ini. Akhirdari semua aktivitas politik ini berikutnya mereka pun dapat menguasai parlemen(DPR/DPRD), dan menguasai pemerintahan. Dengan menguasai pemerintahan dan parlemen, maka seluruh kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah dan parlemen(DPR/DPRD) dapat dipastikan merupakan cermin dari kepentingan dari para pemilik modal ini. Ditambah lagi, agar sukses dijalankannya kebijakan ini, perangkat-perangkat dukungan pun dipersiapkan: dari mulai kampanye palsu(alasan kenapa kebijakan tersebut yang diambil), hingga perangkat kekerasannegara (polisi, tentara, pengadilan dan penjara). Sederhananya, negara pun akhirnya dikuasai oleh mereka.

Perjuangan Kelas, Bentuk Perjuangan dan Organisasinya

Bagi kita yang sudah pernah dan terbiasa berjuang menuntut kesejahteraan di sebuah perusahaan, atau di berbagai aksi kawasan atau aksi mogok nasional sudah biasa pula bagi kita melihat keberpihakan negara(pemerintah, aparat, pengadilan, dll) terhadap klas pengusaha/pemilik modal, sebagaimana penjelasan diatas. Tetapi pernyataan ini bukanlah berarti bahwa mayoritas kelas buruh sudah memahami bahwa perjuangan kelas buruh juga harusmelakukan perjuangan untuk merebut kekuasaan negara yang dikuasai oleh kelas pemilik modal.

Gerakan kaum buruh  yang dipimpin oleh serikat buruh, biasanya hanya menekankan tentang perjuangan ekonomi, yaitu perjuangan yang hanya menuntut sebagian isu atau sebagian tuntutan kelas buruh. Mayoritas kelas buruh pun masih belum paham bahwa akar dari penindasan yang dialaminya saat ini akarnya bersumber dari sistem ekonomi kapitalisme yang dijalankan. Untuk memahami ini, kita harus memahami soal-soal ekonomi politik, dan sejarah perjuangan kelas.

Bahwa dalam setiap masyarakat berkelas, seperti halnya dalam masyarakat kapitalisme, pertentangan klas adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Sejak kapitalisme lahir (lebih dari 300 tahun lalu) pertentangan antara buruh dan pengusaha telah dimulai. Dari perlawanan perlawanan sendiri-sendiri, hingga akhirnya membangun perlawanan bersama dalam sebuah organisasi sekerja yang dikenal dengan nama serikat buruh. Biasanya penindasan di tempat kerja dan “perjuangan ekonomi” di tempat kerja (perbaikan upah,kondisi kerja, dll) yang dilakukan oleh buruh di masing-masing perusahaan menjadi motor penggerak lahirnya sebuah serikat buruh di masing-masing perusahaaan. Kesadaran bahwa, semakin bersatu buruh akan menjadi lebih kuat,dan adanya kesadaran sebagai sesama kelas buruh,  mendorong terbangunnya persatuan-persatuansesama buruh. Ini mendorong terbentuknya penyatuan serikat-serikat buruhsektoral (sering dikenal dengan federasi), atau persatuan serikat buruhlokal/territorial, atau gabugannya menjadi konfederasi serikat buruh. Bahkan persatuannya terjadi hingga antar negara (federasi/konfederasi  internasional).

Sementara kelas-kelas tertindas lainnya: kaum tani, pedagang kecil, nelayan dan rakyat miskin lainnya, juga menghadapi penindasan yang sama seperti yang dialami kelas buruh. Seperti halnya kelas buruh, kelas-kelas inipun berjuang hanya memperjuangkan kepentingan kaumnya. Misalnya kaum tani berjuang untuk merebut tanah yang dirampas negara (misalnya perhutani) atau oleh pemilik-pemilik modal (pengusaha tambang, hutan, perkebunan dsb), nelayan yang menuntut subsidi BBM, pedagang kecil yang menolak penggusuran atau perjuangan rakyat miskin lain dalam aksi-aksi menuntut hak-hak ekonomi sesuai dengan masing-masing kepentingan ekonomi kelompoknya. Masing-masing kelompok kelas tertindas ini membangun organisasi perjuangannya masing-masing: serikattani, nelayan, pedagang kaki lima, rakyat korban penggusuran dan lainnya.

Perjuangan ekonomi, perjuangan menuntut kesejahteraan sejatinya tidaklah akan pernah tercapai selama akar dari penindasan itu sendiri yaitu sistem ekonomi kapitalisme tidak dihapuskan. Sederhananya, kita dapat saksikan bagaimana perjuangan menuntut upah minimum yang layak setiap tahunnya terus terjadi. Karena kenaikan upah sebesar apapun akan diiringi dengan kenaikan harga dan munculnya kebutuhan-kebutuhan sosial lainnya, sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat. Kenaikan upah menjadi tidak ada artinya dibandingkan dengan kenaikan harga dan kebutuhan sosial lainnya. Demikianlah sistem kapitalisme berjalan, ia akan menyesuaikan diri atas kenaikan upah yang terjadi di buruh. Kesejahteraan dan keadilan bagi buruh dan rakyat banyak tidak akan dapat tercipta dalam sistem ekonomi kapitalisme.

Oleh karena itu, perjuangan ekonomi atau perjuangan menuntut kesejahteraan yang telah dilakukan oleh gerakan serikat butuh haruslah dikembangkan dan menjadi bagian dari sebuah perjuangan politik. Yaitu perjuangan untuk melancarkan perebutan kekuasaan politik: pemerintahan, parlemen, dan akhirnya perebutan siapa yang menguasai negara. Menggantikan penguasa negara yang sebelumnya dikuasai oleh kelas pemilik modal, dengan DIRINYA SENDIRI (kelas buruh dan rakyat mayoritas lainnya). Dititik inilah,sebenarnya kaum buruh (dan rakyat pekerja lainnya) mulai membuat perhitungan sejati dengan kelas penindasnya selama ini.

Dengan dikuasainya negara oleh buruh dan rakyat pekerja, maka berbagai kebijakan yang dihasilkan akan berkebalikan dengan situasi saat ini.Sederhananya saja, misalnya ketika negara dikuasai oleh buruh maka upah buruhakan dinaikkan, tidak boleh ada PHK, jam kerja dikurangi tanpa pengurangan upah sehingga semua orang mendapatkan pekerjaan, sistem kerja kontrak dan outsourcing akan dihapuskan, seluruh kebutuhan-kebutuhan sosial (pendidikan sampai perguruan tinggi, pension, kesehatan: baik pencegahan maupun pengobatan,perumahan, perawatan anak, taman bacaan, internet dan sebagainya) yang semula menjadi barang dagangan (harus dibeli) dirubah menjadi hak yang harus dapat dinikmati oleh semua orang tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Seluruh sumber-sumber kekayaan alam (migas, tambang, hasil hutan dan laut) dan sektorvital untuk rakyat banyak akan menjadi milik negara rakyat pekerja. Pengusaha yang menolak dan melakukan perlawanan seperti lock-out misalnya, bukan saja berhadapan dengan negara melainkan akan berhadapan dengan rakyat. Kaum buruh pastinya, akan siap menjalankan perusahaan-perusahaan yang tidak mau dijalankan pemilik modal. Akhirnya sistem ekonomi pun secara bertahap diubah menjadi sistem ekonomi yang lebih berkeadilan sosial, berpihak ke rakyat banyak dan bukan ke segelintir orang. Sistem ini sering disebut dengan sistem sosialisme, (yang sebenarnya jika membaca sejarah perjuangan kemerdekaan dan konstitusi UUD 45 kita, sistem inilah yang menjadi cita-cita kemerdekaan:mensejahterahkan kehidupan rakyat, dan membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat).Semua hal yang digambarkan diatas sebenarnya sering digaungkan dengan slogan yel-yel; “BURUH BERKUASA, RAKYAT SEJAHTERA!”

SerikatBuruh

Serikat buruh merupakan bentuk organisasi kelas buruh pertama dan saat ini merupakan organisasi terbesar tempat berhimpunnya kelas buruh secaraluas dibandingkan bentuk organisasi buruh lainnya. Sehingga tidak dapat terelakkan bahwa perjuangan politik kelas harus juga dimulai dan dibangun darisini. Melalui serikat buruh inilah, massa kelas buruh dihimpun guna melakukan melancarkan perjuangan ekonomi sehari-hari (kenaikan upah, penghapusanoutsourcing dan sistem kerja kontrak dan sebagainya) atau perjuangan untuk isu-isu tertentu.

Perjuangan ekonomi  sebagai bentuk awal perjuangan kelas buruh merupakan latihan perjuangan dari seluruh massa kelas buruh. Kemenangan-kemenangan kecil (dipenuhinya tuntutan) dan juga kekalahan-kekalahan yang akan terjadi terus menerus, akan menjadi pelajaran penting dan proses pertumbuhan kesadaran politik kelas buruh. Kemenangan utama dari perjuangan kelas buruh terletak pada semakin bersatunya massa kelas buruh sebagai sebuah kelas dan meningkatnya kesadaran perjuangan kelas buruh dariperjuangan ekonomi menjadi perjuangan politik kelas buruh.

Perjuangan ekonomi yang dilakukan kaum buruh dan dilancarkan olehgerakan serikat buruh tidak akan serta merta dapat memunculkan “kesadaran politik kelas” yaitu kesadaran perjuangan untuk merebut kekuasaan politik daritangan kelas berkuasa dan menghapuskan sistem ekonomi yang menindas yaitu kapitalisme sebagai akar dari penindasan yang dialami kelas buruh dan kelas terhisaplainnya. Walaupun demikian, perjuangan ekonomi yang dilakukan gerakan serikat buruh pun sebenarnya juga bersentuhan “politik” misalnya dalam aksi menuntutupah layak, penghapusan sistem kontrak dan outsoursing, jaminan sosial,pendidikan dan kesehatan gratis dan sebagainya. Sebagaimana dijelaskan diatas,dalam aksi perjuangan semacam ini, kelas buruh melihat bagaimana pemerintah,parlemen (DPR/DPRD), dan partai politik yang ada terlihat berpihak kepada kelaspemilik modal/pengusaha dibandingkan kepentingan kelas buruh. Oleh karenanya,sebenarnya dalam perjuangan buruh yang luas (bukan perjuangan di tingkat perusahaan) yang dilakukan oleh gerakan serikat buruh, juga menghasilkan “BENIH-BENIH”kesadaran politik dan BENIH-BENIH kesadaran perlawanan terhadap sistem ekonomi kapitalsime. Tetapi BENIH tetaplah BENIH yang perlu dirawat, dijaga dan ditumbuhkan menjadi buah”. Mengembangkan “Benih-Benih Kesadaran Politik” ini tidak bisa hanya dilakukan oleh gerakan serikat buruh sendiri, melainkan butuh sebuah partai politik kelas. Sederhananya, serikat buruh adalah sekolahan awal bagi perjuangan massa kelas buruh untuk bisa mengerti mengapa perjuangan politik dan membangun sebuah partai politik kelas harus dilakukan.

Perjuangan untuk merebut kekuasaan negara dan menghapuskan penindasan sistem ekonomi, merupakan sebuah perjuangan yang tidak lagi sekedar menuntut atau sekedar meminta belas kasih penguasa dan pengusaha melainkan mengambil hak kekuasaan rakyat (kelas buruh dan kelas tertindas lainnya) dari tangan kelas bermilik saat ini (kelas pemodal/pengusaha). Perjuangan yang memiliki cita-cita demikian, disebut sebagai sebuah perjuangan politik. 

Untuk membangun sebuah perjuangan politik, dengan cita-cita mengangkat kelas buruh dan kelas tertindas lainnya menjadi penguasa (secarapolitik dan ekonomi berikutnya – menguasai negara – menjadi pemerintah), tidakcukup hanya menggunakan organisasi serikat buruh. Dibutuhkan bentuk organisasi lain diluar serikat buruh yaitu yang biasa dikenal sebagai partai politikkelas. Perjuangan politik adalah bentuk perjuangan tertinggi dari perjuangan kelas.
Partai Politik Kelas

Berbeda dengan serikat buruh, partai politik kelas, biasanya anggotanya adalah para pejuang-pejuang buruh dan pejuang rakyat lainnya yang sudah memiliki pengalaman perjuangan sebelumnya di serikat buruh atau serikat rakyat dan memiliki “kesadaran politik” (memiliki pengetahuan tentang sistem ekonomi kapitalisme, hakekat dan tujuan serta strategi-strategi perjuangan). Sementara serikat buruh/serikat rakyat adalah organisasi massa (organisasi sekerja), dimana kesadaran dan keaktifan anggotanya sangatlah bermacam-macam. Siapa saja yang mau membayar iuran serikat pada dasarnya dapat menjadi anggota serikat buruh.

Pastinya partai kelas buruh berbeda dengan partai-partai politik yang saat ini ada di parlemen atau partai politik yang baru muncul yang akan ikut dalam pemilu 2014 nantinya. Seluruh partai politik ini tidak memilikikepentingan berbeda satu sama lain. Karena bila dicek seluruh partai yang adadi bangun/didirikan, atau setidaknya disokong kuat dan dikuasai oleh para pemilik modal. Sehingga kepentingan mereka pun pada dasarnya tidak berbeda antara satu partai dengan partai lain, mewakiliki kepentingan segelintir orang/minoritas yaitu kelompok berpunya (pemilik modal). Kalau pun ada bedanya, bukanlah soal yang mendasar, yaitu penolakan terhadap sistem ekonomikapitalisme yang menindas rakyat (walaupun bisa saja ada anggotanya yang antikapitalisme dan pro terhadap gerakan dan perjuangan buruh). Pertentangan diantara partai-partai ini lebih didasarkan karena mereka ingin kelompok merekalah yang menang pemilu, menang di parlemen (DPR/DPRD), menang dipemilihan presiden dan menguasai pemerintahan. Sehingga nantinya, kelompokmereka lah yang akan menikmati hasilnya (menumpuk kekayaan dan modal). Sementara kaum buruh dan mayoritas rakyat tidak mengalami perubahan apa-apa.

Sementara partai kelas buruh, kepentingan sejatinya tidak memiliki kepentingan berbeda dengan kepentingan sejati kelas buruh dan mayoritas rakyat. Kepentingan sejati kelas buruh dan mayoritas rakyat (terlepas apakah buruh danmayoritas rakyat sudah sadar atau belum) adalah menghapuskan penindasan yang dialaminya, dimana akarnya justru ada pada sistem ekonomi kapitalisme (sistem ekonomi setan uang dalam bahasa jaman pergerakan kemerdekaan). Perjuangan tahap pertama yang harus dilalui adalah merebut kekuasaan negara dari kekuasaan kelas berkuasa saat ini (kelas pemilik modal). Inilah tahapan untuk menghapuskan penindasan dan ketidakadilan di masyarakat. Lewat negara yang dikuasai inilah,secara pasti perubahan sistem ekonomi dilakukan, menjadi ekonomi yang berkeadilan bagi rakyat banyak. Jika pergantian kekuasaan sebelumnya (dariSoeharto- SBY), selalu kelompok minoritaslah yang menguasai negara, maka partai kelas buruh bercita-cita menaikkan kaum mayoritas: kaum buruh dan rakyat jelata menjadi penguasa negeri.

Bentuk-bentuk perjuangan politik dari kelas buruh bisa bermacam-macam: dari mulai demonstrasi massa dan pemogokan politik (merubah kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan ekonomi), membentukpartai politik, ikut pemilu dan menempatkan pejuang-pejuangnya di parlemen secara damai, hingga perjuangan jalanan menumbangkan kekuasaan. Sekali lagi yang harus diingat, perjuangan ekonomi dan perjuangan politik harus dilakukan beriringan. Oleh karenanya, partai politik kelas buruh haruslah memiliki hubungan yang erat dengan serikat-serikat buruh, baik yang progresif (merah),yang radikal reformis, bahkan dengan serikat-serikat buruh yang “memble atau yang menjadi kaki tangan pengusaha/penguasa sekalipun”. Karena pada dasarnya karakter-karakter dari serikat buruh yang disebutkan diatas lebih pada pengaruh dari pimpinan-pimpinan serikat buruh tersebut. Sementara di massanya, seringkali jauh lebih maju kesadaran dan keinginan untuk berjuangnya.

Situasi Perjuangan Kelas Buruh Saat Ini dan Tugas Mendesaknya

Disadari bahwa mayoritas kelas buruh bahkan yang sudah berserikat sekalipun dan sudah terlibat dalam berbagai perjuangan menuntut kesejahteraan,terlibat dalam pemogokan, belum memiliki kesadaran politik untuk berkuasa dan menghapuskan sistem kapitalisme. Mayoritas kelas buruh belum menyadari bahwa selain serikat buruh, mereka membutuhkan partai politik kelas untuk meraih cita-cita perjuangan politik kelas buruh: “Buruh Berkuasa, Rakyat Sejahtera!”

Tetapi disisi lain, terdapat fakta bahwa di kalangan pejuang-pejuang buruh, sebagiannya duduk menjadi pimpinan-pimpinan serikat buruh, sudah menyadari akan kebutuhan ini. Hanya saja, usaha-usaha serius untuk membangun sebuah kekuatan politik kelas buruh (partai politik kelas buruh), tidak dilakukan secara serius. Mayoritas pejuang buruh yang sadar akan hal inipun larut pada pekerjaan hanya membangun perjuangan serikat buruhnya. Tetapi, sentuhan-sentuhan politik dalam perjuangan ekonomi yang dilakukan(mogok lokal, mogok nasional, nuntut penghapusan outsourcing dan kontrak, nuntut jaminan sosial, menolak RUU Kamnas dan RUU Ormas, persatuan dansolidaritas sesama buruh/antar serikat, bahkan mendukung calon-calon dalam pilkada ataupun taktik menitipkan calon mereka ke parpol dalam pemilu 2014 dan lain sebagainya) sebenarnya memberikan lahan luas untuk mendorong maju gerakan buruh dari gerakan serikat buruh menjadi sebuah gerakan politik untuk membangun sebuah partai politik kelas buruh. Pekerjaan ini tidak dapat ditunda-tundalagi.

Pembangunan partai politik kelas buruh tentu saja pengerjaannya tidak seperti yang dilakukan seperti “partai-partai buruh” yang pernah dibentuk, yang tujuannya tak lebih dari sekedar dapat ikut serta pemilu, dan dapat ikut serta berkuasa (baca: menikmati kekuasaan bersama kelas penindaslainnya) dan bukan untuk menaikkan kelas buruh menjadi berkuasa dan menghapuskansistem ekonomi kapitalisme.

Organisasi politik kelas buruh (partai kelas buruh) haruslah dibentuk bukan oleh segelintir elit pimpinan serikat buruh yang berkumpul, berkongres dan membentuk partai. Melainkan harus dibangun dari kesadaran gerakan perjuangan kelas buruh saat ini. Artinya, para pejuang buruh danburuh-buruh maju/sadar, dari serikat manapun yang telah memiliki kesadaran akan pentingnya membangun sebuah partai politik kelas buruh hurus mulai berkumpul,mendiskusikan secara bersama bagaimana membangun organisasi politik ini dan mengembangkannya secara luas kepada anggota-anggota serikatnya yang paling aktif. Persatuan kelas buruh harus ditingkatkan dari persatuan perjuangan serikat buruh menjadi persatuan perjuangan untuk membangun partai politik kelasburuh.

Situasi terakhir, terdapat debat di kalangan kawan-kawan pimpinan serikat buruh, atas dukung atau tidak mendukung calon yang dianggap berpihakkepada kaum buruh terutama di Bekasi, terkait pemilihan Gubernur dan WakilGubernur Jawa Barat. Ke depan menghadapi pemilu 2014, pastinya banyak debat soal memasukkan atau tidak penting memasukkan pimpinan-pimpinan serikat buruhke partai-parti politik yang ada untuk menjadi anggota DPR/DPRD. Semuanya iniakan sangat berguna jika saja kita sudah memiliki sebuah organisasi politik, sehingga akan ada kesatuan tindakan, dan manfaat yang lebih jauh bagi gerakan atas pilihan-pilihan ini. Oleh karena terlepas dari debat diatas, kenyataan ini semakin menunjukkan bahwa pembangunan sebuah partai politik kelas buruh harus segera dilakukan. Seluruh pejuang-pejuang buruh dan perjuang rakyat lainnya yang tersebar di berbagai serikat buruh dan organisasi rakyat di masing-masingkota harus segera bertemu merumuskan bagaimana mengawali langkah pembangunan partai politik kelas buruh ini. 
Sekian, salam juang..

Diterbitkan dalam "Kibar Juang" edisi 1

Baca Selengkapnya...

Sunday, 16 June 2013

REVOLUSI KAUM BURUH


kami satu : buruh
kami punya tenaga
jika kami satu hati
kami tahu mesin berhenti
sebab kami adalah nyawa
yang menggerakkannya
(Wiji Thukul, “Makin Terang Bagi Kami”)

Bila buruh adalah konsekuensi sebuah ideologi, maka perjuangan kelas buruh menjadi niscaya, bukan wacana. Karenanya ada satu basis nilai yang kita lebih unggulkan dibandingkan dengan yang lain, sampai titik konsekuensi tertinggi seorang manusia, yakni mati, sebagai tumbal perjuangannya. Dalam hal ini, kematian bukan sesuatu yang ditakuti, tetapi dikejar, dituju, didamba, karena keyakinannya sudah mentok setiap yang bernyawa pasti mati. Tugas manusia yang masih hidup adalah bagaimana memperbarui kualitas hidup agar dapat meninggalkan memori indah bagi generasi selanjutnya. 
  
Perjuangan, kematian, dan transendensi adalah sebuah rangkaian takdir kemanusiaan yang sambung menyambung. Kita punya pilihan untuk membela nasib manusia [yang kebetulan berprofesi] buruh sebagai tanggung jawab kemanusiaan kita. Ia punya nilai sakral. Itulah yang dilakukan oleh Chun Te-il, tokoh besar perjuangan buruh Korea. Ia mati muda akibat membakar diri dalam usia 22 tahun saat berhadapan dengan penguasa. Sehingga, masuk serikat bukan lagi wacana karena hanya melalui saluran itulah perjuangan buruh lebih bermakna. Setiap gerakan pasti berkonsekuensi ke darah daging juga sehingga teologi dan kultur kita meresap di dalamnya.

Ideologi buruh tidak hanya ditemui dan dirasakan dalam ruang rapat. Aksi peringatan May Day, audiensi dengan parlemen, atau training legislasi, itu semua cuma program teknis. Bentuk, besaran, dan dinamikanya bisa beragam. Kegiatan semacam itu bisa berlangsung karena mungkin akibat efek sentimentil buruh bergaji rendah. Bila kita bergaji belasan hingga dua puluhan juta rupiah perbulan, sedangkan pada saat yang sama UMR cuma Rp1 juta rupiah, belum tentu sebuah aksi buruh bisa terlaksana. Jangankan membuat kegiatan, sekadar berkumpul saja mungkin sulit. Akan muncul alasan-alasan pribadi agar kita dimaklumi untuk absen rapat atau mengadvokasi rekan buruh lain.

Artinya, alam bawah sadar kita masih dalam jaring kapitalisme. Ada posisi dalam struktur sosial yang kita nikmati dan tidak ingin kita ubah. Istilah Lenin, masih ada pikiran-pikiran borjuis dalam minda kita sehingga kita ambigu dalam bersikap. Perasaan ajeg dan mapan dalam kondisi ini disebut feodal, citra kapitalis dalam wajah kultural. Inilah penjara terbesar kita, dajjal atau iblisnya minda kita, yang menghambat kenapa gerakan buruh tidak muncul, apalagi militan dan progresif. Andai pun ada, hanya sporadis dan terakumulasi pada buruh bergaji rendahan, yang memang terpaksa melawan perilaku korporasi dan kebijakan negara sekeras mungkin daripada mati perlahan-lahan.

Buruh feodal itu bukan orang bodoh, bukan orang yang tidak punya kekuasaan struktural, bukan pula orang yang tidak punya hati nurani. Namun, watak ingin selamat sendiri dan perlakuan istimewa dari manajemen membuat rasa kemanusiaan hilang dalam sekejap. Apa yang bisa kita tuntut dari orang-orang yang kerjaannya pergi pagi pulang sore dari Senin hingga Jumat hanya untuk bekerja, dan Sabtu-Minggu untuk bercengkrama bersama keluarga?

Buruh penjilat yang pintar membaca situasi itu diistilahkan Chun Tae-il sebagai ‘orang pintar dan bijaksana’. Sedangkan Tae-il lebih memilih di posisi ‘orang bodoh’ yang mau begitu saja melawan manajemen. Tae-il ‘bodoh’ karena ingin nilai-nilai kemanusiaannya yang selama ini dirampas atas nama jam kerja yang panjang, gaji yang rendah, dan sistem yang tidak jelas, bisa dikembalikan ke ‘buruh bodoh’.

Korporasi pun juga tidak kalah gesitnya dalam menyiasati kondisi tersebut. Panggung musik dan kompetisi olahraga diadakan dalam menyambut hari buruh. Kesannya memang baik. Namun dibalik itu semua tersembul upaya memecah konsentrasi buruh agar mereka sibuk di tempatnya masing-masing dan tidak termobilisasi dalam sebuah aksi massa. Demontrasi adalah proses aktualisasi diri. Kapan lagi bisa bolos kerja dengan tenang, dan masuk TV pula?

Buruh pada dasarnya adalah tungku kapitalisme. Mereka bekerja bukan atas kemauannya sendiri. Keberadaan serikat buruh pun dalam konteks ini adalah keterpaksaan lanjutan sebagai konsekuensi ketertindasan. Serikat itu ada dalam hati buruh mulai pukul 08:00 hingga 17:00. Tapi setelah jam 17 hingga 7 pagi tidak ada serikat. Handphone yang off setibanya di rumah buruh bisa dimaknai sebagai ketidakinginan diusik dengan masalah industrial.

Realitas, basis ideologi

Ideologi tidak lepas dari tiga hal yang ketiga hal tersebut mengarah pada penyelesaian satu problem. Problemnya adalah realitas. Realitas adalah kenyataan. Mungkinkah kita dapat melepaskan diri dari kenyataan? Tidak mungkin. Pada saat yang sama, kita tahu bahwa kenyataan itu terbatas. Keterbatasan itu reduksi. Sebuah reduksi sangat dicurigai sebagai konstruksi, bikinan, rekayasa, manipulasi, ekspolitasi suatu sistem lain.

Bila kenyataan itu sesuatu yang terbatas, bagaimana mungkin kita tidak pernah bisa lepas dari kenyataan? Darimana kita bisa harus menganggap kenyataan sebagai sesuatu yang permanen atau nisbi?

Bila realitas hanya dipahami sebagai kenyataan [sosial] saja dan kita memahami bahwa kita tidak bisa lepas dari realitas sosial itu, sedangkan kenyataannya realitas sosial itu sesuatu yang terbatas, sesuatu yang empirikal, material, dimensional, maka pada saat itu juga kita sudah masuk dalam pikiran materialistik. Struktur pengetahuan kita, sampai kapan pun juga materialis. Kita beragama, agama kita materialis.

Sifat ideologi materialis adalah mempriorkan simbolisasi dan mengingkari substansi. Dalam kitab suci disebutkan bahwa yang namanya surga adalah sebuah tempat yang di dalamnya ada sungai-sungai susu dan madu, pepohonan rindang yang berbuah lebat. Bagi warga Timur Tengah, penggambaran surga seperti itu mungkin sudah luar biasa karena tanah mereka gersang dan tidak ada sungai yang jernih.

Sedangkan bagi warga Nusantara, penggambaran surga semacam itu tidak luarbiasa karena alam Nusantara memang elok nian. Apabila realitas dipahami sebagai kenyataan empiris saja, maka kita pasti sudah tersungkur dalam ideologi materialisme. Begitu pun, ketika anda naik haji atau ziarah ke Yerusalem, tahajud atau kebaktian, ke masjid atau gereja, semua ibadah itu adalah ibadah materialis. Ketika ibadah itu dilakukan, maka pasti ada yang struktur penzaliman bagi orang lain.

Kita tidak boleh peduli dengan struktur teologi yang dipakai seseorang untuk membenarkan perilaku sosial jahatnya. Tapi mengapa masih banyak kalangan yang tidak bisa memisahkan perilaku keagamaan dengan nilai ajaran itu sendiri? Karena struktur pengetahuannya tidak tertata dengan utuh. Biasanya kerancuan berpikir (logic fallacy) terjadi karena tidak terbiasa mengasah logika dan ogah mengkaji filsafat.

Bentuk pengaburan realitas inilah yang mesti kita bongkar. Seolah-olah pencitraan langit karena kesalehan individual sudah cukup menutupi perilaku zalimnya di masyarakat buruh. Yang menghambat kita melakukan pembongkaran karena realitas-realitas langit itu dianggap lebih nyata daripada realitas sosialnya. Padahal penguasa modal berjubah kesalehan itu sendiri adalah makhluk material, kasat mata, dan bukan sebentuk hologram. Yang tidak terbiasa dilakukan oleh banyak kalangan adalah memposisikan secara bijak suatu realitas yang terukur dengan realitas lain yang tidak terukur.

Berarti realitas tidak hanya berkenaan dengan kenyataan, yang terbatas, berdimensi, dsb. Realitas punya makna selain kenyataan. Sesuai dengan asal katanya, real-itas, riil, maka realitas juga punya arti keberadaan. Keberadaan bermakna lebih luas dari kenyataan. Kenyataan hanya mengacu pada dimensi material, sedangkan keberadaan mengacu pula pada wilayah non-material.

Artinya realitas itu sesuatu yang tidak terbatasi oleh alam materi saja, namun juga meliputi alam-alam non-material. Tentu saja munculnya pengetahuan didahului oleh kesadaran subjek akan objek luar dan kemenyatuan dengan objek luar tersebut. Mustahil kita bisa mengetahui ada tembok di hadapan kita bila tidak ada kesadaran kita subjek dan tembok objek sebagai dua hal yang berbeda. Selanjutnya kehadiran tembok tidak akan bermakna ketika kita tidak memahami konsekuensi adanya tembok di hadapan kita yaitu terhalanginya kita untuk melangkah ke depan atau tempat lain.

Artinya, kesadaran itu akan melahirkan pada tindakan, apakah tembok itu kita diamkan begitu saja, atau kita robohkan, atau kita mencari alternatif jalan lain. Sistem pengetahuan ini akan menyadarkan kita tentang keterkaitan antara alam satu dengan yang lainnya. Sebuah benda material yang dicerai-beraikan belum tentu terlihat keberadaannya, apalagi benda non-material. Namun kita sadari bahwa tidak ada alam yang terputus atau terpisah secara tegas.

Begitu pun dengan buruh. Buruh bisa menyikapi manajemen perusahaan yang tidak menganggap buruh sebagai aset sebagai bagian dari takdir Tuhan. Atau disikapi secara individual agar bisa meraih kedudukan istimewa di mata atasan (baca: injak buruh yang lebih di bawah dan jilat yang di atas). Atau kesalahan sistem itu disikapi sebagai sinyal pembongkaran sistem lama dan penggantian dengan sistem perburuhan yang lebih manusiawi. Opini tiap buruh bisa berbeda-beda dengan perusahaan dan mengisyaratkan adanya perpecahan internal. Dengan keberadaan serikat, dialektika di antara sesama buruh bisa dilokalisir dan buruh selalu punya sikap politik yang solid.

Membungkus Isu

Great acts are made up of small deeds.” (Tindakan besar tersusun dari tindakan-tindakan kecil) (Lao Tzu, 600 – 531 SM).

Kesadaran adalah efek dari eksistensi/realitas/keberadaan/wujud. Ada keberadaan yang dimensional, ada pula yang non-dimensional. Keberadaan yang dimensional terbatas. Seluruh pengetahuan yang berkonsepsi pada hal ini, niscaya terbatas. Sedangkan keberadaan non-dimensional, ada yang terbatas dan ada pula yang tak terbatas. Non-dimensional yang terbatas, seperti partikel dan gelombang, hakikatnya sama saja dengan keberadaan yang dimensional, tidak mungkin dijadikan prinsip, yakni titik akhir dari struktur pengetahuan yang membuat kita berkonsekuensi akhir, hidup atau mati. Karena prinsip harus universal, maka ia mengacu pada sesuatu yang sederhana.

Perjuangan buruh cenderung hilang momentum di tengah-tengah masyarakat, padahal ia merupakan kelas signifikan dalam sebuah negara, karena ketidakpiawaian dalam membungkus isu. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan merangkaian isu mana yang universal dan mana yang partikular. Petani, nelayan, mahasiswa, PNS, pemuda, dan pelajar tidak mungkin diajak demo tentang outsourcing dan pekerja kontrak bila serikat buruh tidak membungkus dengan isu yang lebih universal sehingga menjadi kebutuhan dan kepentingan bersama.

Ketidakmampuan membahasakan isu tersebut ternyata bukan sekadar masalah biasa atau tidak biasa, tapi lebih mendasar lagi, yaitu kemampuan melihat ruang permainan politik yang lebih luas. Bahwa buruh itu besar dari segi jumlah, iya. Tapi kenyataan pula bahwa serikat buruh krisis SDM sehingga daya ledaknya dalam setiap aksi massa tidak semeriah seminar penjaja intelektualitas di hotel-hotel berbintang.

Selain itu, isu universal yang mereka mainkan masih kalah ciamik dengan isu-isu politik lokal karena isu tersebut tidak didasari oleh tendensi teologis. Saat ini isu teologi hanya dipakai untuk kampanye pilkada dan alat legitimasi rezim. Tapi sesungguhnya nilai-nilai teologi jauh lebih luhur dan mendukung perjuangan kaum tertindas.

Agama menjadi milik elit dan golongan tertentu, bukan lagi barang milik rakyat. Karena hegemoni yang intens, kalangan awam pun takut menggunakan idiom agama dalam setiap aksinya. Akibatnya, nilai-nilai perjuangan buruh pun didikotomikan dengan nilai-nilai keagamaan. Perjuangan buruh dilabeli selalu bernilai komunis dan anti Tuhan. Inilah yang membuat perjuangan buruh berbeda-beda dan cenderung sulit akur karena mendramatisir masalah dirinya.

Perjuangan manusia sepanjang hayat adalah mencapai kemerdekaan. Dan perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. Batas akhir pengorbanan adalah kemenangan atau kematian. Kematian di jalan kebenaran, membela nilai-nilai kemanusiaan adalah kematian yang agung. Pelakunya adalah martir, syahid. Tujuan akhir hidup manusia adalah mati dalam kondisi peduli dan membela nasib kaum tertindas, di mana buruh adalah mayoritasnya.

Manusia punya empat tipe perjalanan hidup: 1] ada yang awal hidupnya buruk, akhirnya berubah menjadi baik, 2] ada yang awalnya buruk akhirnya pun buruk, 3] ada yang awalnya baik, di akhir hidupnya buruk, 4] ada pula yang awalnya baik dan akhirnya pun baik. Kita ingin akhir hidup kita di tipe manusia yang keempat itu, awal dan akhir yang baik…


Sumber : http://anditoaja.wordpress.com/2009/01/13/revolusi-kaum-buruh/
Baca Selengkapnya...