Showing posts with label Buruh Militan. Show all posts
Showing posts with label Buruh Militan. Show all posts

Saturday, 6 July 2013

BURUH BERJUANG MENUJU PERUBAHAN

Membentuk Serikat buruh adalah bagian dari hak buruh yang tertuang dalam undang-undang ketenagakerjaan, ketika suara hati para buruh tersumbat oleh sistem manajemen imperialis kapitalis, terkerangkeng dalam kurungan serikat buruh yang semu penuh kemunapikan. Buruh terpuruk mengelus dada, disinilah Serikat Buruh sejati dinanti.

Serikat Buruh yang semu hanya bekerja untuk keuntungan pribadinya, dengan nama dan lambang organisasi sekedar simbolisasi semata, tanpa implementasi aksi yang pasti, yaitu berjuang atas nama buruh, melawan tirani manajemen kapitalis imperialis penindas.

Ketika Buruh berteriak dengan suara lantang, menyuarakan suara hatinya yang terhimpit beban ketidak adilan, maka serikat buruh yang semu bekerja seperti polisi intel mencari mangsa, setelah itu terdengar buruh-buruh yang suaranya vokal di Pehaka. Dengan form mengundurkan diri tanpa paksaan.

Serikat buruh seperti ini biasanya hanya dipasang sebagai syarat pelengkap, bumbu pemanis dan tameng penutup kebijakan manajemen cerdas yang menindas.

Jika Serikat buruh yang anda ikuti seperti itu tinggalkanlah, Serikat buruh semu hadir hanya sebagai benalu berjaket simbolisasi serikat pekerja, dalam tindakannya bekerja sebagai serikat pengusaha yang menipu, menggiring anda jadi buruh manut dan berlutut, takut, bermental patalistik ( menyerah pasrah dg keadaan buruk tanpa usaha ). Padahal muka bumi ini luas.

Kondisi buruk ini diperparah oleh para buruh penjilat, yang mencari popularitas dan kedudukan, atau sekedar mempertahankan jabatan, atas nama jabatan ia bertindak semena-mena, ia tidak sadar jabatan itu sementara, ia lupa hidup itu sementara.

Ini jadi bahan perenungan kita bersama, yang memiliki jabatan bersikap bijaklah atas jabatannya, yang memiliki kekuasaan bersikap bijaklah pada wilayah kekuasaanya, yang memiliki bawahan bersikap bijaklah terhadap bawahannya.

Yang manakah Serikat buruh sejati itu, tentu Serikat buruh sejati adalah Serikat yang berdiri di pihak buruh, berjuang untuk buruh, menjadikan organisasinya untuk berlabuh segala keluh kesah kaum buruh, dan mengibarkan layar perjuangannya menuju buruh yang merdeka, berpikir merdeka, dan bertindak merdeka. Dia berlayar menuju pulau harapan dan cita-cita.

Wahai kaum buruh tetaplah kobarkan semangat perubahan, kita jangan bangga dengan kedudukan yang telah dicapai, kita jangan bangga dengan kemenangan yg telah diraih, tetaplah berjuang untuk anak-anak kita dan yang utama, untuk Agama.
Baca Selengkapnya...

Sunday, 16 June 2013

REVOLUSI KAUM BURUH


kami satu : buruh
kami punya tenaga
jika kami satu hati
kami tahu mesin berhenti
sebab kami adalah nyawa
yang menggerakkannya
(Wiji Thukul, “Makin Terang Bagi Kami”)

Bila buruh adalah konsekuensi sebuah ideologi, maka perjuangan kelas buruh menjadi niscaya, bukan wacana. Karenanya ada satu basis nilai yang kita lebih unggulkan dibandingkan dengan yang lain, sampai titik konsekuensi tertinggi seorang manusia, yakni mati, sebagai tumbal perjuangannya. Dalam hal ini, kematian bukan sesuatu yang ditakuti, tetapi dikejar, dituju, didamba, karena keyakinannya sudah mentok setiap yang bernyawa pasti mati. Tugas manusia yang masih hidup adalah bagaimana memperbarui kualitas hidup agar dapat meninggalkan memori indah bagi generasi selanjutnya. 
  
Perjuangan, kematian, dan transendensi adalah sebuah rangkaian takdir kemanusiaan yang sambung menyambung. Kita punya pilihan untuk membela nasib manusia [yang kebetulan berprofesi] buruh sebagai tanggung jawab kemanusiaan kita. Ia punya nilai sakral. Itulah yang dilakukan oleh Chun Te-il, tokoh besar perjuangan buruh Korea. Ia mati muda akibat membakar diri dalam usia 22 tahun saat berhadapan dengan penguasa. Sehingga, masuk serikat bukan lagi wacana karena hanya melalui saluran itulah perjuangan buruh lebih bermakna. Setiap gerakan pasti berkonsekuensi ke darah daging juga sehingga teologi dan kultur kita meresap di dalamnya.

Ideologi buruh tidak hanya ditemui dan dirasakan dalam ruang rapat. Aksi peringatan May Day, audiensi dengan parlemen, atau training legislasi, itu semua cuma program teknis. Bentuk, besaran, dan dinamikanya bisa beragam. Kegiatan semacam itu bisa berlangsung karena mungkin akibat efek sentimentil buruh bergaji rendah. Bila kita bergaji belasan hingga dua puluhan juta rupiah perbulan, sedangkan pada saat yang sama UMR cuma Rp1 juta rupiah, belum tentu sebuah aksi buruh bisa terlaksana. Jangankan membuat kegiatan, sekadar berkumpul saja mungkin sulit. Akan muncul alasan-alasan pribadi agar kita dimaklumi untuk absen rapat atau mengadvokasi rekan buruh lain.

Artinya, alam bawah sadar kita masih dalam jaring kapitalisme. Ada posisi dalam struktur sosial yang kita nikmati dan tidak ingin kita ubah. Istilah Lenin, masih ada pikiran-pikiran borjuis dalam minda kita sehingga kita ambigu dalam bersikap. Perasaan ajeg dan mapan dalam kondisi ini disebut feodal, citra kapitalis dalam wajah kultural. Inilah penjara terbesar kita, dajjal atau iblisnya minda kita, yang menghambat kenapa gerakan buruh tidak muncul, apalagi militan dan progresif. Andai pun ada, hanya sporadis dan terakumulasi pada buruh bergaji rendahan, yang memang terpaksa melawan perilaku korporasi dan kebijakan negara sekeras mungkin daripada mati perlahan-lahan.

Buruh feodal itu bukan orang bodoh, bukan orang yang tidak punya kekuasaan struktural, bukan pula orang yang tidak punya hati nurani. Namun, watak ingin selamat sendiri dan perlakuan istimewa dari manajemen membuat rasa kemanusiaan hilang dalam sekejap. Apa yang bisa kita tuntut dari orang-orang yang kerjaannya pergi pagi pulang sore dari Senin hingga Jumat hanya untuk bekerja, dan Sabtu-Minggu untuk bercengkrama bersama keluarga?

Buruh penjilat yang pintar membaca situasi itu diistilahkan Chun Tae-il sebagai ‘orang pintar dan bijaksana’. Sedangkan Tae-il lebih memilih di posisi ‘orang bodoh’ yang mau begitu saja melawan manajemen. Tae-il ‘bodoh’ karena ingin nilai-nilai kemanusiaannya yang selama ini dirampas atas nama jam kerja yang panjang, gaji yang rendah, dan sistem yang tidak jelas, bisa dikembalikan ke ‘buruh bodoh’.

Korporasi pun juga tidak kalah gesitnya dalam menyiasati kondisi tersebut. Panggung musik dan kompetisi olahraga diadakan dalam menyambut hari buruh. Kesannya memang baik. Namun dibalik itu semua tersembul upaya memecah konsentrasi buruh agar mereka sibuk di tempatnya masing-masing dan tidak termobilisasi dalam sebuah aksi massa. Demontrasi adalah proses aktualisasi diri. Kapan lagi bisa bolos kerja dengan tenang, dan masuk TV pula?

Buruh pada dasarnya adalah tungku kapitalisme. Mereka bekerja bukan atas kemauannya sendiri. Keberadaan serikat buruh pun dalam konteks ini adalah keterpaksaan lanjutan sebagai konsekuensi ketertindasan. Serikat itu ada dalam hati buruh mulai pukul 08:00 hingga 17:00. Tapi setelah jam 17 hingga 7 pagi tidak ada serikat. Handphone yang off setibanya di rumah buruh bisa dimaknai sebagai ketidakinginan diusik dengan masalah industrial.

Realitas, basis ideologi

Ideologi tidak lepas dari tiga hal yang ketiga hal tersebut mengarah pada penyelesaian satu problem. Problemnya adalah realitas. Realitas adalah kenyataan. Mungkinkah kita dapat melepaskan diri dari kenyataan? Tidak mungkin. Pada saat yang sama, kita tahu bahwa kenyataan itu terbatas. Keterbatasan itu reduksi. Sebuah reduksi sangat dicurigai sebagai konstruksi, bikinan, rekayasa, manipulasi, ekspolitasi suatu sistem lain.

Bila kenyataan itu sesuatu yang terbatas, bagaimana mungkin kita tidak pernah bisa lepas dari kenyataan? Darimana kita bisa harus menganggap kenyataan sebagai sesuatu yang permanen atau nisbi?

Bila realitas hanya dipahami sebagai kenyataan [sosial] saja dan kita memahami bahwa kita tidak bisa lepas dari realitas sosial itu, sedangkan kenyataannya realitas sosial itu sesuatu yang terbatas, sesuatu yang empirikal, material, dimensional, maka pada saat itu juga kita sudah masuk dalam pikiran materialistik. Struktur pengetahuan kita, sampai kapan pun juga materialis. Kita beragama, agama kita materialis.

Sifat ideologi materialis adalah mempriorkan simbolisasi dan mengingkari substansi. Dalam kitab suci disebutkan bahwa yang namanya surga adalah sebuah tempat yang di dalamnya ada sungai-sungai susu dan madu, pepohonan rindang yang berbuah lebat. Bagi warga Timur Tengah, penggambaran surga seperti itu mungkin sudah luar biasa karena tanah mereka gersang dan tidak ada sungai yang jernih.

Sedangkan bagi warga Nusantara, penggambaran surga semacam itu tidak luarbiasa karena alam Nusantara memang elok nian. Apabila realitas dipahami sebagai kenyataan empiris saja, maka kita pasti sudah tersungkur dalam ideologi materialisme. Begitu pun, ketika anda naik haji atau ziarah ke Yerusalem, tahajud atau kebaktian, ke masjid atau gereja, semua ibadah itu adalah ibadah materialis. Ketika ibadah itu dilakukan, maka pasti ada yang struktur penzaliman bagi orang lain.

Kita tidak boleh peduli dengan struktur teologi yang dipakai seseorang untuk membenarkan perilaku sosial jahatnya. Tapi mengapa masih banyak kalangan yang tidak bisa memisahkan perilaku keagamaan dengan nilai ajaran itu sendiri? Karena struktur pengetahuannya tidak tertata dengan utuh. Biasanya kerancuan berpikir (logic fallacy) terjadi karena tidak terbiasa mengasah logika dan ogah mengkaji filsafat.

Bentuk pengaburan realitas inilah yang mesti kita bongkar. Seolah-olah pencitraan langit karena kesalehan individual sudah cukup menutupi perilaku zalimnya di masyarakat buruh. Yang menghambat kita melakukan pembongkaran karena realitas-realitas langit itu dianggap lebih nyata daripada realitas sosialnya. Padahal penguasa modal berjubah kesalehan itu sendiri adalah makhluk material, kasat mata, dan bukan sebentuk hologram. Yang tidak terbiasa dilakukan oleh banyak kalangan adalah memposisikan secara bijak suatu realitas yang terukur dengan realitas lain yang tidak terukur.

Berarti realitas tidak hanya berkenaan dengan kenyataan, yang terbatas, berdimensi, dsb. Realitas punya makna selain kenyataan. Sesuai dengan asal katanya, real-itas, riil, maka realitas juga punya arti keberadaan. Keberadaan bermakna lebih luas dari kenyataan. Kenyataan hanya mengacu pada dimensi material, sedangkan keberadaan mengacu pula pada wilayah non-material.

Artinya realitas itu sesuatu yang tidak terbatasi oleh alam materi saja, namun juga meliputi alam-alam non-material. Tentu saja munculnya pengetahuan didahului oleh kesadaran subjek akan objek luar dan kemenyatuan dengan objek luar tersebut. Mustahil kita bisa mengetahui ada tembok di hadapan kita bila tidak ada kesadaran kita subjek dan tembok objek sebagai dua hal yang berbeda. Selanjutnya kehadiran tembok tidak akan bermakna ketika kita tidak memahami konsekuensi adanya tembok di hadapan kita yaitu terhalanginya kita untuk melangkah ke depan atau tempat lain.

Artinya, kesadaran itu akan melahirkan pada tindakan, apakah tembok itu kita diamkan begitu saja, atau kita robohkan, atau kita mencari alternatif jalan lain. Sistem pengetahuan ini akan menyadarkan kita tentang keterkaitan antara alam satu dengan yang lainnya. Sebuah benda material yang dicerai-beraikan belum tentu terlihat keberadaannya, apalagi benda non-material. Namun kita sadari bahwa tidak ada alam yang terputus atau terpisah secara tegas.

Begitu pun dengan buruh. Buruh bisa menyikapi manajemen perusahaan yang tidak menganggap buruh sebagai aset sebagai bagian dari takdir Tuhan. Atau disikapi secara individual agar bisa meraih kedudukan istimewa di mata atasan (baca: injak buruh yang lebih di bawah dan jilat yang di atas). Atau kesalahan sistem itu disikapi sebagai sinyal pembongkaran sistem lama dan penggantian dengan sistem perburuhan yang lebih manusiawi. Opini tiap buruh bisa berbeda-beda dengan perusahaan dan mengisyaratkan adanya perpecahan internal. Dengan keberadaan serikat, dialektika di antara sesama buruh bisa dilokalisir dan buruh selalu punya sikap politik yang solid.

Membungkus Isu

Great acts are made up of small deeds.” (Tindakan besar tersusun dari tindakan-tindakan kecil) (Lao Tzu, 600 – 531 SM).

Kesadaran adalah efek dari eksistensi/realitas/keberadaan/wujud. Ada keberadaan yang dimensional, ada pula yang non-dimensional. Keberadaan yang dimensional terbatas. Seluruh pengetahuan yang berkonsepsi pada hal ini, niscaya terbatas. Sedangkan keberadaan non-dimensional, ada yang terbatas dan ada pula yang tak terbatas. Non-dimensional yang terbatas, seperti partikel dan gelombang, hakikatnya sama saja dengan keberadaan yang dimensional, tidak mungkin dijadikan prinsip, yakni titik akhir dari struktur pengetahuan yang membuat kita berkonsekuensi akhir, hidup atau mati. Karena prinsip harus universal, maka ia mengacu pada sesuatu yang sederhana.

Perjuangan buruh cenderung hilang momentum di tengah-tengah masyarakat, padahal ia merupakan kelas signifikan dalam sebuah negara, karena ketidakpiawaian dalam membungkus isu. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan merangkaian isu mana yang universal dan mana yang partikular. Petani, nelayan, mahasiswa, PNS, pemuda, dan pelajar tidak mungkin diajak demo tentang outsourcing dan pekerja kontrak bila serikat buruh tidak membungkus dengan isu yang lebih universal sehingga menjadi kebutuhan dan kepentingan bersama.

Ketidakmampuan membahasakan isu tersebut ternyata bukan sekadar masalah biasa atau tidak biasa, tapi lebih mendasar lagi, yaitu kemampuan melihat ruang permainan politik yang lebih luas. Bahwa buruh itu besar dari segi jumlah, iya. Tapi kenyataan pula bahwa serikat buruh krisis SDM sehingga daya ledaknya dalam setiap aksi massa tidak semeriah seminar penjaja intelektualitas di hotel-hotel berbintang.

Selain itu, isu universal yang mereka mainkan masih kalah ciamik dengan isu-isu politik lokal karena isu tersebut tidak didasari oleh tendensi teologis. Saat ini isu teologi hanya dipakai untuk kampanye pilkada dan alat legitimasi rezim. Tapi sesungguhnya nilai-nilai teologi jauh lebih luhur dan mendukung perjuangan kaum tertindas.

Agama menjadi milik elit dan golongan tertentu, bukan lagi barang milik rakyat. Karena hegemoni yang intens, kalangan awam pun takut menggunakan idiom agama dalam setiap aksinya. Akibatnya, nilai-nilai perjuangan buruh pun didikotomikan dengan nilai-nilai keagamaan. Perjuangan buruh dilabeli selalu bernilai komunis dan anti Tuhan. Inilah yang membuat perjuangan buruh berbeda-beda dan cenderung sulit akur karena mendramatisir masalah dirinya.

Perjuangan manusia sepanjang hayat adalah mencapai kemerdekaan. Dan perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. Batas akhir pengorbanan adalah kemenangan atau kematian. Kematian di jalan kebenaran, membela nilai-nilai kemanusiaan adalah kematian yang agung. Pelakunya adalah martir, syahid. Tujuan akhir hidup manusia adalah mati dalam kondisi peduli dan membela nasib kaum tertindas, di mana buruh adalah mayoritasnya.

Manusia punya empat tipe perjalanan hidup: 1] ada yang awal hidupnya buruk, akhirnya berubah menjadi baik, 2] ada yang awalnya buruk akhirnya pun buruk, 3] ada yang awalnya baik, di akhir hidupnya buruk, 4] ada pula yang awalnya baik dan akhirnya pun baik. Kita ingin akhir hidup kita di tipe manusia yang keempat itu, awal dan akhir yang baik…


Sumber : http://anditoaja.wordpress.com/2009/01/13/revolusi-kaum-buruh/
Baca Selengkapnya...

Tuesday, 11 June 2013

Buruh Dalam Perjuangan Melawan Kenaikan BBM

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, sudah menginstruksikan kepada semua gubernur, bupati dan wali kota di seluruh Indonesia untuk melakukan sosialisasi terhadap rencana kenaikan harga BBM. Instruksi Menteri ini bukan semata-mata agar masyarakat mengetahui bahwa dalam waktu dekat pemerintah akan merealisasikan rencana kenaikan BBM, tetapi juga sebagai langkah antisipasi  dan penanganan terhadap gejolak sosial yang akan terjadi.
Ya, gejolak sosial pasti akan terjadi karena kebijakan pemerintah ini sungguh tidak populer. Gerakan buruh yang dalam satu tahun belakangan ini telah menjadi semakin besar sudah mengancam akan turun untuk menentang kenaikan BBM. Penjelasan yang paling logis pun, menurut pemerintah, mengenai penghapusan subsidi BBM tetap tidak masuk akal di mata dan pikiran rakyat.  Persepsi sederhana dari rakyat mengenai Negara adalah bahwa Negara harus tetap memberi subsidi pada kebutuhan-kebutuhan vital. Alasan Presiden bahwa “jika beban subsidi BBM tidak dikurangi maka akan mempengaruhi kondisi keuangan Negara” jelas-jelas merupakan argumentasi yang tidak pro rakyat. Sementara pemakluman yang diberikan oleh DPR kepada pemerintah mengenai rencana ini terlihat sarat dengan kepentingan, terutama terkait dengan anggaran untuk DPR. Ucapan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik, mengenai kaitan antara kenaikan harga BBM dan gaji pejabat negara tentulah menjadi pertimbangan tersendiri bagi rakyat untuk membiarkan atau memberi pemakluman kepada pemerintah. “Apabila BBM subsidi tak dinaikkan,” Ucap Jero Wacik, “maka gaji pejabat negara maupun anggota DPR, termasuk para menteri, tidak bisa dibayar oleh negara.”

Masyarakat merespon persoalan ini dengan logika yang sederhana, bahwa penuntasan semua kasus korupsi dapat menyelamatkan keuangan negara; bahwa dengan memberi gaji dan tunjungan yang tidak berlebihan kepada DPR dan pejabat negara, termasuk menteri, juga akan menuntaskan defisit keuangan negara — jika alasan utama kenaikan harga BBM karena kondisi keuangan negara. Jadi di mata rakyat, persoalan ini merupakan persoalan yang mudah diselesaikan jika ada “political will” dari para penyelenggara negara.

Tapi kebijakan ekonomi pro rakyat seperti ini sudah bisa dipastikan tidak akan dijalankan oleh pemerintah. Sistem kapitalisme, terutama ketika ia sedang memasuki krisis global, tidak mengijinkan kebijakan ekonomi yang memberikan konsesi kepada rakyat pekerja. Justru sebaliknya yang kita lihat di seluruh dunia adalah kebijakan penghematan. Kapitalisme, sebagai sistem yang menjunjung tinggi kepemilikan pribadi, akan tetap berpijak di atas logika bisnis dan pasar—untuk kepentingan pribadi—yang disponsori dan diintervensi oleh pemerintah di bawah tekanan kapitalisme global.
Rencana kenaikan harga BBM tak lepas dari kepentingan kapitalisme global untuk membangun lahan investasi yang subur di Indonesia. Untuk bisa mendapatkan profit yang lebih tinggi, para kapitalis membutuhkan sarana dan prasarana ekonomi yang baik, di satu piahk UU yang mendukung investasi (termasuk UU perburuhan) dan di lain pihak adalah infrastruktur ekonomi. Inilah alasan utama dari kenaikan BBM, yakni untuk menciptakan ruang di dalam anggaran pemerintah yang lalu dapat digunakan untuk membangun infrastruktur ekonomi  yang diperlukan oleh kaum kapitalis untuk bisnis mereka. S&P, yakni institusi finansial dunia, telah memberikan peringatan kepada pemerintahan Indonesia bahwa bila BBM tidak naik – dan tidak ada investasi infrastruktur yang serius – maka tingkat pertumbuhan ekonomi tidak akan terjamin. Ini bukanlah akal-akalan atau tipuan, tetapi adalah logika kapitalisme. Pada krisis global hari ini, walaupun Indonesia tidak terimbas langsung dan secara besar, ia tetap harus mengikuti logika kapitalis. Subsidi untuk rakyat pekerja harus dikorbankan untuk diberikan kepada kaum kapitalis, untuk menjamin profit mereka. Inilah yang ada di balik semua program penghematan di seluruh dunia hari ini.
Lalu bagaimana? Ya, fakta telah membentuk kesadaran politik kaum buruh. Borjuasi dengan segala program “baik”nya tetap bukan sebagai tempat yang tepat untuk menaruh harapan kaum buruh. Logika dari akumulasi kapital tetap akan menciptakan nilai lebih dengan cara mengeksploitasi kaum proletar; dan menjadikan kaum buruh sebagai komoditas—baik sebagai komoditas di dalam aktifitas ekonomi maupun politik.

Rencana kenaikan harga BBM yang akan direalisasikan dalam waktu dekat bukan saja sebagai bukti ketidakberhasilan pemerintah ataupun seorang pemimpin, tetapi ketidakberhasilan suatu kelas, yakni borjuasi. Jadi penyelesaian fundamental dari persoalan ini bukan dengan mengganti pemimpin atau mencari-cari pemimpin ideal, tetapi dengan menghancurkan sistem yang lama dan diganti dengan sistem yang baru—oleh perjuangan kelas buruh!

Hari ini adalah momentum besar bagi kaum buruh untuk mengkonsolidasi kekuatannya, dengan memberikan kepemimpinan terhadap gerakan menentang kenaikan harga BBM. Pada tahun lalu buruh bisa memukul mundur pemerintah, maka hari ini ketika gerakan buruh telah berlipat ganda dalam jumlah dan kualitas, maka tidak ada alasan mengapa gerakan buruh tidak bisa memukul mundur pemerintah hari ini. Ketidakpercayaan rakyat terhadap kebijakan pemerintah; rasa skeptis rakyat terhadap partai-partai politik yang ada; menurunnya antusiasme rakyat terhadap pemilu 2014; dan juga fakta mengenai gelombang pemogokan buruh yang masif akhir-akhir ini bisa menjadi titik pijak bagi proletariat Indonesia untuk mengambil kepemimpinan politik seluruh bangsa.  “Sebuah pemogokan politik kaum proletar harus berubah menjadi sebuah demonstrasi politik massa,” tulis Trotsky, “ini merupakan syarat pertama untuk kesuksesan.”

Energi revolusioner yang sangat besar sudah mulai terbentuk. Energi ini harus dijaga agar tidak menguap begitu saja. Energi ini tidak boleh dihamburkan oleh proletariat di dalam agenda-agenda politik borjuis; tidak boleh dihabiskan untuk kesemarakan pemilu borjuis 2014. Proletariat yang paling maju harus terus mengkonsentrasikan kegeraman, kemarahan, protes-protes, kegusaran, dan kebencian rakyat ke arah pemenuhan tugas historis proletariat, yakni perebutan kekuasaan. Proletariat harus bisa menyatukan seluruh elemen tertindas dengan slogan yang sama, dengan tujuan yang sama, dan di bawah kepemimpinan buruh. Bila perjuangan ini tercapai, maka, setidaknya, setengah revolusi telah tercapai.


Sumber : http://www.militanindonesia.org/
Baca Selengkapnya...